Laboratorium Klinik Medika

Address:
Jl. Jendral Sudirman No. 25 D Propinsi Jambi, Kota Jambi (Simpang Jelutung)

Telephone:
(0741)7553890 / (0741)23685

0858 3266 6818 / 0853 7813 0244 / 0815 3993 1996

FAX:
(0741)7553890

Email:
laboratoriumklinikmedika@yahoo.com / info@labmedika.com
Find us on Google Maps - Laboratorium Klinik Medika (Jambi, Indonesia)
Articles

Penting untuk Anda ketahui !!!

Organ

Penyakit

Gejala Utama

Faktor Resiko

Tes - Tes Yang diperlukan

Jantung

Penyakit Jantung Koroner (PJK)

- Angina Pektoris Stabil
- Angina Pektoris Tak Stabil
- Infark miokard akut

Nyeri dada kiri mendadak :

- Dapat menjalar ke lengan kiri, punggung, rahang bawah atau ke dada kanan
- Dari beberapa menit sampai setengah jam
- Dapat hilang atau tidak dengan istirahat
- Pada dada ada rasa tertekan benda berat seperti diiris-iris, diperas, dll
- Pusing, keringat dingin
- Kadang mual sampai muntah

- Kolestrol yang tinggi
- Trigliserida yang tingi
- HDL yang rendah
- Diabetes Melitus
- Hipertensi
- Perokok
- Stress
- Kegemukan
- Asam urat yang tinggi
- Kurang olah raga
- Ada Riwayat Keluarga dengan PJK

- Kolestrol
- HDL
- Trigliseridia
- Glukosa
- Asam Urat
- GOT
- GPT
- CK
- CKMB
- LDH
- Alfa HBDH

Hati/Liver

- Hepatitis
- Kanker Hati
- Sirosis Hepatitis

- Mata Kuning
- Mual - mual
- Nafsu makan menurun
- Kencing berwarna seperti the pekat
- Lesu, letih
- Muntah
- Demam
- Perut membesar
- Edema tungkai lemah

- Malnutrisi
- Alkohol
- Tertular melalui jarum suntik
- Sex bebas
- dll

- Billirubin T, D, I
- GPT
- GGT
- Alkaline Phosphatase
- HBs Ag
- HBe Ag
- HCV
- HAV

Pankreas

- Pankreatitis
- Deabetes Melitus

- Nyeri perut dapat menjalar ke punggung atau bahu kanan
- Mual muntah
- Nafsu makan menurun
- Kembung
- Sulit buang air besar
- Demam sampai 39 derajat celcius
- Mirip sakit maag (Pankreatitis Kronis)
- Banyak kencing
- Bnayak minum
- Banyak Makan
- Berat badan menurun
- Cepat Lelah
- Luka sukar sembuh

- Penyakit saluran dan kantung empedu
- Batu empedu yang turun
- Alkohol
- Turunan
- Kegemukan
- Pankreatitis kronis

- Pankreatitis Amylase
- Glukosa (Pankreatitis Kronis)
- GOT
- Alkaline phosphatase
- BM - test Helicobacter pylori
- Glukosa
- Trigliserida
- Kolesterol
- HDL - kolesterol
- Amilase

Ginjal

- Batu Ginjal
- Gangguan Fungsi hati

- Sakit pinggang
- Nyeri kencing
- Kencing berwarna kemerahan
- Demam
- Kencing terasa panas
- Tekanan darah tinggi

- Kadar asam urat tinggi
- Faktor keturunan
- Infeksi ginjal
- Tekanan darah tinggi
- Diabetes Melitus
- Batu ginjal

- Asam Urat
- Kreatinin
- Ureum
- Kalium
- Glukosa
- Urine

Darah

Anemia

- Pucat
- Lesu, lemah
- Sering kesemutan
- Cepat lelah

- Kurang gizi
- Penyakit infeksi
- Penyakit darah (mis; Leukimia)
- Tumor ganas(kanker)
- Penyakit hati

- Hemoglobin (hb)
- Billirubin
- Kalium
- Glukosa
- Gambaran Darah tes
- Faeces
- Malaria

ANJURAN :
PERIKSALAH DIRI ANDA SECARA TERATUR KE LABORATORIUM KLINIK MEDIKA BILA ANDA MEMPUNYAI : FAKTOR RESIKO DAN GEJALA- GEJLA UTAMA
TANYALAH PADA DOKTER SPESIALIS PATOLOGI KLINIK/ AHLI ANALIS KESEHATAN BILA ADA HAL-HAL YANG KURANG JELAS

Penyakit Jantung Koroner

Penyakit jantung koroner (PJK) adalah penyakit jantung yang disebabkan oleh terganggunya aliran darah dari pembuluh darah jantung sehingga otot jantung yang diperdarahinya kekurangan darah dengan segala manifestasi kliniknya, tergantung dari berat ringannya sumbaran. PJK adalah salah satu dari berbagai jenis penyakit jantung. Penyakit jantung lainnya antara lain penyakit jantung rematik, penyakit jantung bawaan, kardiomiopati, dan lain-lain. PJK mempunyai arti penting karena rat-rata menyerang mereka yang berusia 40 tahun keatas. Pada usia itu seseorang sedang puncak kariernya.
Dalam 15 tahun terakhir, terjadi peningkatan kematian yang disebabkan PJK, dari penyebab kematian nomor 11 menjadi nomor 6, kemudian menjadi nomor 1 khususnya pada orang dewasa. PJK adalah penyakit jantung yang disebabkan oleh banyak faktor. Faktor tersebut antara lain menyebabkan aterosklerosis seperti hipertensi, hiperkolesterolemia, hiperlipidemia, hiperurisemia dan hiperglikemia. Faktor yang lain yang mempengaruhi adalah gaya hidup seperti alkoholism, merokok, tidak berolah raga, kegemukan, dan pengaruh psikososial. Faktor resiko yang lain adalh genetik (turunan), umur, jenis kelamin,oral kontrasepsi, dan kepribadian tipe A
Pada penderita hipertensi akan terjadi aterosklerosis dan arteriskerosis sehingga akan mempercepat terjadinya PJK. Kadar serum kolesterol diatas 240 mg/dl sangat mempengaruhi kadar kolesterol dalam darah.
Orang yang tidak melakukan olah raga mempunyai kecendurangan sebear 20% untuk menderita PJK. Obesitas/kegemukan ada hubungannya dengan lemak tubuh. Orang dengan obese/gemuk mempunyai resiko lebih tinggi untuk terkena PJK. Wanita-wanita yang menggunakan oral kontrasepsi mempunyai resiko dua kali lebih besar unutk terkena pjk. Iklim juga merupakan faktor resiko terjadinya PJK yang juga berhubungan dengan kebiasaan minum kopi, alkohol unutk menghangatkan badan pada cuaca dingin. Terjadinya PJK biaanya didahului oleh aterosklerosis yaitu penbalan dan pengerasan dinding pembuluh darah arteri koroner/jantung. Manifestasi klinik PJK berdasarkanFramingham bervariasi sebagai berikut :
1. tidak ada gejala
2. angina pektoris/ perasaan tidak enak di dada stabil atau tidak stabil
3. akut infark miokard
4. gangguan irama jantung
5. payah jantung
6. kematian mendadak

Gejala utama PJK adalah nyeri dada atau rasa tidak enak di dada. Nyeri dada tentu banyak penyebabnya. Nyeri dada yang spesifik karena PJK adalah yang disebut angina pektoris. Ciri khas dari rasa tidak nyaman didada ini dicetuskan oleh peningkatan aktifitas fisik dan segera hilang bila sudah beristirahat ada beberapa faktor resiko yang dapat mempercepat timbulnya penebalan dan pengerasan dinding pembuluh darah antara lain :
1. hipertensi
Hipertensi yang stabil atau tidak, sistolik atau diastolik sangat berpengaruh pada terjadinya PJK. Angka kesakitan dan angka kematian sangat meningkat seiring dengan peningkatan tekanan darah. Di indonesia. Hipertensi ( tekanan darah tinggi ) merupakan faktor resiko penting untuk terjadinya PJK. Orang menderita hiprtensi kemungkinan untuk terkena PJK. Sebesar 3 kali. Selain PJK, hipertensi juga merupakan faktor resiko terjadinya stroke.
2. Hiperkolesterolemis
Terjadinya PJK sangat dipengaruhi oleh kadar kolesterol dalam darah, terutama kolesterol LDL (Low density Lipoprotein) yang sangat aterogenik. Nilai LDL yang diharapkan dibawah 130 mg%. jika berkisar antara 130-135 mg% mempunyai resiko sedang dan jika lebih dari 150 mg% berarti resiko tinggi. HDL kolesterol berperan melindungi jantung karena perannya mengangkut kolesterol dari jaringan ke hati, untuk selanjutnya di keluarkan di usus halus. Penelitian memperlihatkan bahwa orang yang menderita hiperkolesterolemia mempunyai 2,54 kali untuk penderita PJK.
3. Diabetes Melitus (kencinga manis)
Penderita dengan Diabetes Melitus dan Glukosa intolerans mempunyai resikotinggi untuk menjadi PJK sebanyak 2 kali lebih besar. Pada Diabetes terjadi kelainan metabolisme yang disebabkan oleh hiperglikemia. Pada penderita diabetes melitus terjadi percepatan ateroskerosis dan 75-80% kematian penderita diabetes melitus disebabkan oleh makroangiopati terutama yang terjadi pada jantung yaitu PJK. Yang perlu diingat pada penderita diabetes melitus adalah hampir selalu disertai displidemia yang ditandai dengan tingginnya kada trigliserid plasma, kolesterol total, dan LDL
4. Hiperurisemia
Hiperurisemia juga dapat menyebabkan aterogenik secara tidak langsung dan efeknya seringkali terlihat bila dibarengi dengan hipertensi, hiperlipidemia dan obesitas/kegemukan. Gout arterititis merupkan faktor yang memperkuat terjadinya PJK.
5. Kurang olah raga
Berdasarkan penelitian latihan fisik sangat erat sekali hubungannya dengan pencegahan terjadinya PJK, terutama kaum pria. Olah raga yang di anjurkan adalah olah raga yang bersifat aerobik atau aktifitas yng dinamis. Orang yang tidak berolah raga mempunyai resiko terkena PJK 2 kali.
6. Merokok
Berdasarkan penelitian epidemiologi yang meneliti kira-kira 12 juta orang per tahun menunjukkan adanya hubungan anatar merokok dengan infark miokard dan kematian karena PJK. Orang yang merokok mempunya I resiko 2 kali lebih banyak unutk menderita penyakit kardio vaskuler
7. Obesitas/kegemukan
Orang yang mempunyai berat badan berlebih, kemungkinan kan mengalami payah jantung dan PJK. Kelebih berat bada mempunyai hubungan kut dengan kadar lipid, hipertensi dan glukosa intolerans. Orang dengan obesitas mempunyai resiko 2,68 kali untuk terkena PJK
8. Riwayat Keluarga
Orang yang anggota keluarga sekandungnya menderita PJK atau meninggal mendadak sebelum berumur 50 tahun, dianggap memiliki faktor resiko PJK. Orang ini akan cenderung mendapat PJK lebih cepat dibandingkan orang yang tidak punya riwayat keluarga yaitu 2,36 kali. Kecenderungan ini tidak berdiri sendiri melainkan di pengaruhi pula oleh gaya hidup individu itu sendiri.
9. Umur dan jenis kelamin
Penambahan usia akan meningkatkan kemungkinan terjadinya PJK. PJK lebih sering timbul pada usia 35 tahun ke atas. Pada usia 55-64 tahun, 40% kematian disebabkan PJK. Pada populasi laki-laki, usia yang lazim terpapar PJK adalah diatas 40 tahun, sedangkan perempuan pada usia sesudah menopuse atau 55 tahun. Laki-laki lebih dominan untuk menderita PJK sebesar 2,34 kali dibandingkan dengan perempuan. Pada perempuan yang mengalami menopuse angka insiden PJK 2 kali lipat.
10. Kopi
Kafein yang terdapat dalam kopo dapat menyebabkan perubahan hemodinamik \yang merupakan kontribusi untuk terjadinya PJK. Beberapa data menunjukkan peminum kopi sangat erat hubungannya dengan perokok dan cuaca dingin
11. Alkohol
Alkohol merupakan zat berbahaya yang dapat menyebabkan hipertensi, hipertrigliseridamia, dan masalah psokososial. Alkohol dapat merusak mikardium sehingga merupakan faktor resiko timbulnya PJK
12. Iklim dan Polusi Udara
Tempertatur yang sangat dingin dan dikaitkan dengan kebiasaan minum alkohol dan kopi. Ini juga merupakan faktor resiko terjadinya PJK. Polusi udara yang disebabkan oleh loga-logam industri secara tidak langsung juga mempengaruhi PJK.
13. Stress
Rasa cemas, ketakutan, atau ketidaknyamanan dapat merupakan pencetus terjadinya penyakit. Orang yang mendapat serangan angina dapat disebabkan oleh keluhan somatik saja tanpa adanya kelainan fisik yang banyak dipengaruhi oleh keadaan emosi dan rasa curiga. Keadaan yang sangar mempengaruhi timbulnya PJK adalah emosional distres atau pecahnya kepribadian.

KECENDERUNGAN PJK
Penyakit ini terdistribusi dalam masyarakat berdasarkan karakteristik masyarakat dan lingkungannya. Secara umum, dapat dikatakan bahwa distribusi PJK adalah :
1. Lebih banyak dijumpai di negara yang sedang berkembang dibandingkan dengan di negara yang belum berkembang.
2. Lebih banyak ditemukan di daerah perkotaan dibandingkan dengan daerah pedesaan
3. Lebih banyak mengenai golongan masyarakat sosial ekonomi menengah atas dibandingkan dengan golongan sosial ekonomi lemah
4. Lebih banyak mengenai pria daripada wanita pada umur kurang dari 55 tahun

UPAYA PENCEGAHAN
Upaya pencegahan PJK pada dasarnya bisa didasarkan pada faktor resikonya. Berdasarkan hal itu, yayasan jantung indonesia memperkenalkan panca Usaha kesehatan jantung yang menganjurkan pola hidup sehat berupa seimbang gizi, enyahkan rokok, hindari stress, awasi tekanan darah secara teratur dan teratur berolah raga.
Upaya tersebut disebut upaya konvensional
Ada 4 upaya pencegahan terhadap PJK yaitu pencegahan primordial, pencegahan primer, pencegahan sekunder, dan pencegahan tersier. Pencegahan primordial adalah upaya pencegahan munculnya faktor presdisposisi terhadap PJK dalam suatu wilayah dimana belum tampak adanya faktor yang menjadi resiko PJK. Jadi, mencegah seseorang supaya tidak mempunyai faktor resiko
Pencegahan primer adalah upaya awal pencegahan PJK sebelum seseorang menderita. Hal ini dilakukan berupa penyuluhan tentang faktor-faktor resiko PJK, terrutama pada kelompok resiko tinggi. Pencegahan primer ditujukan kepada pencegahan terhadap berkembangnya proses aterosklerosis secara dini.pencegahan sekunder adalah upaya mencegah keadaan PJK yang sudah pernah terjadi unutk berulang atau menjadi lebih berat. Pencegahan tersier adalah upaya mencegah terjadinya komplikasi yang lebih berat atau kematian, dengan maksud mengembalikan penderita agar dapat berfungsi seperti semula dan dapat mengerjakan kewajibannya.

Pencegahan primer
Pada kelompok yang tidak mempunyai faktor resiko lain, diperiksa kadar HDL dan kadar kolesterol total. Bila kadar kolesterol dibawah 200mg% dan HDL dibawah 35 mg% dilakukan pemeriksaan lipoprotein. Demikian juga bila kada kolesterol diatas 200 mg%. lipoprotein yang diperiksa LDL. Bila kdar LDL diatas 130 mg% dengan faktor resiko dibawah 2 maka diajnjurkan diet dan olahraga dan dievaluasi hasilnya.

Evaluasi klinis
Evaluasi klinis bertujuan unutk menemukan apakah hiperkolesterol tersebut disebabkan oleh suatu penyakit lain atau gaya hidup atau karena hal lain. Selain itu, juga harus diperhatikan faktor genetik.

Olahraga/aktivitas fisik
Aktifitas fisik hendaknya mengandung 3 unsru, yaitu pemanasan dengan peregangan yang dilakukan selama 5 -10 menit dilanjutkan dengan aerobik sampai denyut jantung sasaran kira-kira 80% dari denyut jantung maksimal (220-umur) selama 20-30 menit. Kemudian diakhiri dengan pendinginan selama 5-10 m3nit. Latihan dilakukan 4-5 kali seminggu selama 2-3 minggu dengan lama latihan 40-60 menit. Jenis latihan berkesinambungan, berirama, progresive dan meningkatkan daya tahan. Unutk orang tua latihan fisik berbentuk jalan kaki cepat cukup efektif

Evaluasi klinik
Pencegahan primer dikatakan gagal apabila setelah 3-6 bula ternyata kadar LDL diatas 190 mg% tanpa faktor resiko aau kadar LDL diatas 160 mg% plus 2 faktor resiko. Untuk ini dilakukan pengobatan farmakologik.

Pencegahan sekunder
Selain anjuran umum seperti pencegahan primer, pada pencegahan sekunder dilakukan tindakan bedah pintas koroner

Pencegahan tersier
Selain mengendalikan secara konvensional, juga mengembalikan penderita terhadap fungsinya seperti sedia kala. Program yang utama adalah latihanaktivitas dengan tahap-tahap tertentu sampai penderita dapat melakukan aktifitas seperti orang normal tanpa keluhan mauun perubahan EKG

Mendeteksi PJK secara Dini
Apabila kita ingin mendeteksi PJK pada stadium yang sangat dini sekali (artinya belum ada penyempitan) sampai saat ini belum ada pertanda yang bisa benar-benar menunjukkan bahwa seseorang sudah menderita stadium awal sekali PJK. Kateterisasi jantung yaitu memasukkan pipa lentur kedalam jantung untuk memotret pembuluh darah itu, hanya dapat dilakukan bila sudah ada penyepitan, jadi ini bukan deteksi dini. Pemeriksaan ini memerlukan biaya yang sangat mahal.
Pemeriksaan ujilatih jantung ( treadmill test) mampu mendeteksi 80% orang yang sudah mempunyai penyempitan pembuluh darah koroner bermakna meskipun orang itu tidak mempunyai keluhan atau gejala sakit dada dalam keadaan biasa. Test ini penting apabila kita mencurigai adanya PJK terutama pada usia 40 tahun ke atas dan oran-orang yang mempunyai faktor resiko.

Peradangan Hati (hepatitis)

Apakah Fungsi hati ?
Hati adalah salah satu organ yang terpenting di dalam tubuh manusia. Hati berperan enting dalam hidup kita. Fungsi utama hati adalah menyaring segala sesuatu yang masuk kedalam tubuh. Hati juga melindungi kita terhadap infksi dengan membuang bakteri dan bahan-bahan beracun dari darah sehingga tubuh kita tetap sehat. Hati juga bertanggung jawab untuk menyimpan energi untuk menggerakkan otot - otot serta mengatur kadar gula darah, kolesterol, dan enzim - enzim.

Apakah Hepatitis itu ?
Hepaptitis adalah peradangan/infeksi pada sel-sel hati. Penyebab hepatitis yang paling sering adalah virus, yang dapat menyebabkan pembengkakan dan pelunakan hati. Beberapa virus yang terpenting adalah virus Hepatitis A, Hepatitis B, Hepatitis C. Hepatitis B dan C dapat menyebabkan kerusakan sel-sel hati yang menetap dan serius.

Hepatitis Virus A (HVA)
Hepatitis A disebabkan karena penderita tertularnmakanan atau minuman yang tercemar tinja yang mengandung virus hepatitis A. sekitar 20-25% dari semua kasus hepatitis akut disebabkan oleh virus hepatitis A

Siapa yang beresiko tertular Hepatitis A?
Penderita hepatitis A terutama didapatkan pada kelompok-kelompok sosial ekonomi rendah. Hal ini mencerminkan kondisi kesehatan lingkungan rendah, serta pada kehidupan yang padat dan berkelompok seperti asrama dan sekolah. Selain itu makanan laut seperti tram, kerang, remis, keong juga makanan seperti salad, buah-buahan serta makanan yang tercemar virus hepatitis A merupakan sumber penularan yang tidak disadari.

Apa Gejala - Gejala Hepatitis A?
Sama seperti infeksi virus hepatitis lain, seseorang yang terinfeksi virus hepatitis A mungkin tidak menunjukkan gejala apapun, terutama pada anak-anak dibawah 2 tahun. Gejala-gejala yang mungkin timbul antara lain ; mual, muntah, lemah, nyeri pada daerah hati. Selain itu dapat juga timbul demam, air kemih berwarna kuning the, tinja berwarna pucat. Biasanya penderita sudah sembuh dalam 6 bulan. Satu-satunya cara untuk mengetahui penyakit ini dengan tes darah/pemeriksaan laboratorium darah.

Hepatitis Virus B (HVB)
Hepatitis B lebih sering dijumpai dan lebih menular dibanding AIDS. Di seluruh dunia diperkirakan terdapat 400 juta orang pembawa virus hepatitis B dan lebih dari 200 juta berada di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik. Di Indonesia, angka kejadian hepatitis B berkisar 5-20%, kira-kira 0% kasus infeksi hepatitis B berlangsung terus hingga menjadi kronis (lebih dari 6 bulan) bila tidak diobati, resiko terjadinya Sirhosi Hati (penciutan dan Pengerasan hati) dan kanker hati akan meningkat.

Siapa yang berisiko terkena Hepatitis B ?
Kelompok yang berisiko tinggi tertular hepatitis B yaitu ; bayi yang baru lahir dari ibu pengidap hepatitis B, pegawai kesehatan seperti Dokter, Perawat, petugas Laboratorium, calon penerima transfusi darah dan hemodialisa (cuci darah), para pecandu narkoba, para wanita tuna susila atau PSK(Pekerja Seks Komersial), Tatoo, akupuntur, tindik telinga.

Apa Gejala Hepatitis B ?
pada umumnya penderita hepatitis B tidak menunjukkan gejala apapun. Namun dappa juga timbul gejala-gejala menyerupai flu seperti ; nafsu makan hilang, mual dan muntah, demam, lelah, nyeri daerah perut ringan. Gejala lain yang tidak begiru umum antara lain, air kemih berwarna kuning the, kulit dan mata berwarna kuning. Satu-satunya cara untuk mengetahui penyakit ini dengan tes darah/pemeriksaan laboratorium darah.

Hepatitis Virus C (HVC)
Hepatitis C disebut juga hepatitis non-A non-B. diseluruh dunia terdapat lebih kurang 100 juta pengidap kronik virus hepatitis C. Di Jakarta ditemukan 9-20% kasus hepatitis akut yang disebabkan virus hepatitis C. Diperkirakan 70-80% penderita hepatitis C akan berlanjut menjadi hepatitis kronis, sirhosis hati, kanker hati dan gagal hati. Kegagalan hati akibat hepatitis C merupakan penyebab utama transplantasi (cangkok) hati di Amerika Serikat.

Siapa yang beresiko terkena Hepatitis C?
Kelompok resiko tinggi tertular Hepatitis C adalah :
- Penerima tranfusi darah atau pasien hemodialisa (cuci Darah)
- Pegawai Kesehatan pegawai kesehatan seperti Dokter, Perawat, petugas Laboratorium
- Para pecandu narkoba
- Kontak seksual dengan pengidap virus hepatitis C
- Tatoo, akupuntur, tindik telinga.

Apa saja gejala-gejala hepatitis C?
Pada umumnya penderita hepatitis C tidak menunjukkan gejala apapun. Kadang-kadang timbul gejala flu seperti nafsu makan hilang, mual dan muntah, demam, lemah, lesu, dan nyeri daerah perut ringan. Gejala yang tidak begiru umum misalnya air kemih berwarna kuning teh dan mata kekuningan. Seperti hepatitis B. Satu-satunya cara untuk mengetahui penyakit ini dengan tes darah/pemeriksaan laboratorium darah.

Diabetes Melitus

Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu penyakit menahun yang ditandai oleh kadar glukosa darah yang melebihi dari normal. Apabila dibiarkan tak terkendali, penyakit ini akan menimbulkan penyakit yang berakibat fatal, termasuk penyakit jantung, ginjal, kebutaan, dan amputasi. Kadar glukosa darah yang tinggi disebabkan kekurangan sejenis hormon yaitu hormon insulin. Bila kekurangan insulin makan glukosa darah tidak dapat dibakar menjadi tenaga yang selanjutnya dibawa oleh aliran darah dan terbuang melalui urine (air seni). Menurut berbagai penelitian yang telah dilakukan tingkat kekeraan DM di Indonesia adalah sekitar 1,2-2.3% dari penduduk berusia diatas 15 tahun. Diagnosis secara dini (pemeriksaan laboratorium) adalah satu-satunnya cara unutk mengendalikan penyakit menahun ini. Diabetes melitus dapat menyerang warga segala lapisan umur dan sosial ekonomi.

Bagaimana DM dapat diketahui :
DM dapat didiagnosa berdasarkan pemeriksaan kadar glukosa darah seseorang yang bisa dilakukan dengan memeriksakannya secara laboratorium. Diabetes Melitus dapat diketahui dengan tanda-tanda haus yang hebat, sering kencing, penurunan berat badan, kadang-kadang tak sadarkan diri. Keluhan lain juga dapat timbul seperti kesemutan, gatal-gatal, mata kabur dan impotensia pada pria.

Kapan seseorang dikatakan DM?
Seseorang dikatakan mengidap DM bila Kadar glukosa darah sewaktunya >= 200 mg/dl. Atau kadar glukosa darah puasanya >= 126 mg/dl.

Bagaimana pendrita DM dapat dikendalikan?
Untuk dapat mencegah terjadinya komplikasi yang menahun diperlukan pengendalian M yang baik. DM terkendali baik tidaknya bukan hanya kadar glukosa darah saja yang baik tetapi harus menyeluruh yaitu ; kadar glukosa darah, kadar lipid/lemak darah (kolesterol total, LDL, kolesterol HDL, Trigliserida), Hb A1 c(%), Status gizi dan tekanan darah.

Tujuan Pengelolaan penderita DM
Jangka pendek : menghilangkan keluhan/gejala DM dan mempertahankan rasa nyaman dan sehat
Jangka panjang : mencegah penyaakit yang diakibatkan DM dengan tujuan akhir menurunkan angka kesakitan dan kematian DM.
Pilar utama pengelolaan DM
1. Penyuluhan
2. Perencanaan makanan
3. Latihan jasmani
4. Obat yang berkhasiat untuk menurunkan glukosa darah
Jenis pemeriksaan laboratorium sebagai penunjang untuk mengontrol DM adalah :
Kadar Hb, Lekosit, LED, Hitung jenis Lekosit, Glukosa Darah puasa dan sesudah makan, urin rutin, Albumin, Ureum, Kreatinin, SGPT, Lipid (koleterol Total, Kolesterol HDL, LDL, Trigliserida), Albumin urine kuantitif 24 jam dan Hb A1 C.

Pemeriksaan yang perlu dilakkan secara berkala :
1. Menurut kebutuhan : pemeriksaan kadar glukosa darah puasa dan 2 jam sesudah makan
2. Tiap tiga bulan Hb A1 C
3. Tiap tahun : albumin Urin, Sedimen Urin, Kreatinin, Lipid, SGPT
Kendati tak bisa disembuhkan penderita DM bisa hidup secara normal. Caranya dengan melakukan kontrol glukosa darah di laboratorium, diet dan olahraga teratur.

Pemeriksaan Laboratorium yang berhubungan dengan DM sangat dianjurkan bagi seseorang bila :
1. Usia diatas 40 tahun
2. Kegemukan dan tekanan darah tinggi
3. Keluarga ada yang diabetes
4. Mempunyai kolesterol tinggi dan trigliserida yang tinggi
5. Pernah diabetes waktu hamil
6. Adanya menunjukkan gejala klinis DM
7. Memantau hasil diet dan pengobatan
8. Mendeteksi awal adanya komplikasi diabetes

Pemeriksaan Tubex TF untuk Pemeriksaan Demam Tifoid

Dengan ini kami memperkenalkan produk baru untuk pemeriksaan Demam Tifoid

TUBEX TF merupakan suatu assay (pemeriksaan) diagnostik untuk mendeteksi demam tifoid akut yang disebabkan oleh Salmonella typhi melalui deteksi spesifik adanya serum antibodi IgM antigen Salmonella typhi 09 lipopolisakarida.

Berdasarkan prinsip deteksi antibodi IgM spesifik Salmonella typhi dalam serum dengan cara inhibition Magnetik Binding Immunssay (IMB) menggunakan V-Shape Reaction Wells, TUBEX TF memberikan alternatif solusi deteksi dini Demam Tifoid kepada klinis terutama menghadapi masalah kecepatan, kehandalan dan kenyamanan diagnosis.

Demam tifoid mempunyai variasi klinis yang luas dari sub klinik, ringan sedang, dan berat sebagaimana penyakit infeksi pada umumnya berat ringannya penyakit tergantung pada interaksi antigen (kuman), pasien(host), obat/cara pengobatan yang semuanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Variasi klinis yang lebar dan tidak selalu khas tersebut seringkali menyulitkan penetapan secara klinis diagnosis demam tifoid, karena menyerupai penyakit febris lainnya, seperti malaria dan penyakit demam dengue. Oleh karena itu tes laboratorium merupakan saran yang sangat berarti dalam mendiagnosis penyakit ini.

Hasil pemeriksaan serologis (Widal) belum cukup unutk dapat digunakan sebagai sarana tunggal pendukung diagnostik demam tifoid. Meskipun demikian, serologi dpat bermanfaat terutama di daerah yang tidak menggunakan metode diagnostik yang lebih mahal. Metode tes Widal tradisional telah memberikan suatu dukungan terrhadap diagnosa demam tofoid dan paratifoid tetapi seringkali menjadi misleading akibat tingginya positif palsu dan negatif palsu. Sesungguhnya konsep pemeriksaan TUBEX TF mempunyai sensitifitas >90%

Pemeriksaan petanda Tumor

Tumor adalah penyakit pertumbuhan sel. Secara garis besar tumor kita bagi 2 jenis yaitu tumor jinak dan tumor ganas. Kedua jenis tumor diatas perlu kita bedakan karena sangat penting untuk menentukan pengobatan dan prognosisnya atau perkembangan selanjutnya dari tumor terssebut.
Pada dekade terakhir ini pengetahuan tentang proses terjadinya penyakit kanker telah berkembang dengan pesat. Penelitian-penelitian yang terus dikembangkan telah mempunyai dampak yang menggembirakan diagnosis dan pengelolaan penyakit keganasan/tumor dengan ditemukannya serta digunakannya petanda tumor sebagai sarana pembantu yang dapat dihandalkan unutk diagnosis, prognosis, dan pemantauan pengobatannya.
Ada 10 jenis kanker terbanyak ditemukan di Indonesia unutk saat ini yaitu kanker leher rahim, payudara, kelenjar limfa (leukimia), kulit, nasofaring, ovarium, rektum(anus), jaringan lunak, tiroid dan kolon (usus besar). Penanggulangan masalah kanker di Indonesia terletak pada upaya peningkatan kesadaran masyarakat tentang gaya hidup, pola makan, merokok, pencegahan pencemaran lingkungan, pusat kesehatan untuk pengelolaan kanker dan tidak kalah pentingnya adalah deteksi dini adanya kanker dengan melakukan uji saring dengan petanda tumor (tumor marker).

Petanda tumor adalah suatu senyawa biokimia dapat diperiksa secara kuantitatif dari jaringan atau cairan tubuh unutk menentukan adanya tumor dan dapat menentukan dimana tumor itu berada maupun untuk menentukan tingkat keganasan serta untuk memantau respons terhadap pengobatan yang diberikan. Adanya pertumbuhan keganasan dapat dinyatakan dengan peninggatan kadar senyawa-senyawa tersebut didalam cairan darah.
Sampai saat ini dikenal petanda tumor sebagai berikut :
1. Hati : AFP, CEA Gamma GT, dan Ferritin
2. Payudara : CEA, CA 15-3 dan MCA
3. Ovarium : CEA, CA 125, CA 72-4
4. Uterus/rahim : CEA, B-hCG
5. Serviks : CEA, SCC, HPV
6. Tiroid ; hTG, Calsitonin
7. Nasofaing : IgA anti-EBV-VCA, IgA anti EBV-EA
8. Paru-paru : CEA, SCC, NSE
9. Prostat : PSA, PSP, CEA
10. Kolon-Rectal/anus :CEA, CA 19-1
11. Pankreas/Lambung : CEA, CA 19-9, CA 72-4

Kegunaan petanda tumor :
1. Deteksi dini atau uji saring untuk kanker
2. Diagnosis tumor/kanker
3. Menentukan tingkat keganasan kanker
4. Mendeteksi adanya kekambuhan dan metastase/penyebaran kanker
5. Mengevaluasi prognosis kanker
6. pemantauan respons terhadap pengobatan

Penanggulangan kanker akan semakin baik bila kankerr tersebut dapat terdeteksi pada stadium/tahap sedini mungkin. Umumnya penderita kanker datang kepada dokter sudah dalam kondisi yang terlambat atau sudah mencapai tahap lanjut sehingga penanganan menjadi lebih sulit. Atas dasar tersebut maka deteksi dini atau uji saring kanker dengan petanda tumor sangat dianjurkan sekali terutama unutk kelompok yang mempunyai resiko tinggi untuk menderita kanker. Tujuan utama diagnosis ini adalah unutk mendeteksi kanker pada stadium atau tahap yang masih dini, dengan demikian kanker telah dapat didiagnosis sebelum berkembang atau terjadinya metastase/penyebaran ketempat lain dan unutk memudahkan penanganannya. Kadar petanda tumor yang tinggi atau kadar petanda tumor yang berkecenderungan menaik pada suatu saat seri pemerikasaan menunjukkan adanya suatu proses keganasan. Petanda tumor telah terbukti menurut penelitian mempunyai nilai diagnostik yang cukup baik.

Pemeriksaan NS 1 Ag Dengue dan IgG/IgM Dengue

Kasus demam berdarah saat ini kembali meningkat kasusnya diberbagai daerah. Problem yang berulang setiap tahun ini menimbulkan angka kematian dan kesakitan yang tinggi di masyarakat. Kegiatan pencegahan melalui berbagai kegiatan saat ini masih belum memberikan hasil yang signifikan. Program pemberantasan jentik nyamuk, pengelolaan lingkungan yang baik, pengasapan dan abatisasi masih menjadi tumpuan dalam program pemberantasan demam berdarah ini.

Masalah lain yang muncul adalah deteksi dini untuk mengetahui apakah saat ini seseorang sedang atau pernah terkena infeksi virus dengue. Hal ini dipersulit dengan gejala infeksi virus dengue yang seperti sakit panas atau batuk pilek biasa. Gejala spesifik dari infeksi ini juga hampir tidak ada. Bervariasinya jenis dan stereotipe dari virus dengue dengan manifestasi klinis yang juga bervariasi membuat semakin sulitnya melakukan deteksi dini penyakit dengue ini.

Pemeriksaan laboratorium sebagai salah satu penunjang dalam penegakan diagnosis infeksi virus dengue juga telah mengalami pekembangan yang cukup signifikan. Mulai dengan pemeriksaan isolasi virus dengue, pemeriksaan PCR dengue, hingga pemeriksaan cepat seperti IgG/IgM dengue dan yang terbaru NS 1 Ag dengue. Masing- masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Saat ini yang menjadi pilihan adalah IgG/IgM dengue dan NS 1 Ag dengue karena akurasinya yang bagus, kecepatan selesai hasil yang cepet, mudahnya cara pemakaiannya dibanding pemeriksaan yang lain.

Mengingat jumlah kasus kematian akibat infeksi virus dengue, maka pemeriksaan cepat atau rapid test ini sangan membantu tenaga medis dalam menegakkan diagnosis dengue IgG/IgM dengue adalah rapid est yang muncul lebih dulu dibanding NS 1 Ag dengue, Pemeriksaan ini mendeteksi adanya antibodi terhadap virus dengue. Ada dua antibodi yang dideteksi yaitu imunoglobin G dan Imunoglobin M, dua jenis antibodi ini muncul sebagai respon tubuh terhadp masuknya virus kedalam tubuh penderita. Imuniglobin G akan muncul sekitar hari ke-4 dari awal infeksi dan akan bertahan hingga enam bulan pasca infeksi. Atas dasar hal tersebut maka antibodi ini menunjukkan kalau seseorang pernah terserang infeksi virus dengue, setidaknya dalam enam bulan terakhir.

Imunoglobin M juga diproduksi sekitar e-4 dari infeksi dengue, tetapi aantibodi jenis ini lebih cepat hilang dari tubuh. Adanya Imunoglobin M dalam tubuh seseorang menandakan adanya infeksi akut dengue atau dengan kata lain menunjukkan kalau penderita sedang terkena infeksi virus dengue. Sensitivitas dan spesifitas pemeriksaan ini cukup tinggi dalam menentukan adanya infeksi virus dengue secara dini, karena yang diperiksa antibodi terhadap virus dengue dan antibodi baru muncul hari ke-4 pasca infeksi, maka pemeriksaan ini seringkali tidak dapat mendeteksi ineksi virus dengue pada penderita yang mengalami gejala panas hari ke-0 hingga hari ke-4, baru-baru ini telah ditemukan pemeriksaan untuk mendeteksi antigen dari penderita struktural virus dengue.

Unutk mempertahankan hidup, virus dengue memerlukan dukungan dari protein yang mempertahankan tubuhnya terutama unutk membantu masuk dalam sel inang. Protein ini disebut protein struktural yang berfungsi sebagai enzim dan katalis dalam upaya virus mempertahankan hidupnya.

Pemeriksaan NS 1 Ag dengue yang berarti nonstructural 1 antigen adalah pemeriksaan yang mendeteksi bagian tubuh virus dengue sendiri. Karena mendeteksi bagian tubuh virus dan tidak menunggu respon tubuh terhadp infeksi maka pemeriksaan ini dilakukan paling baik saat panas hari ke-0 hingga hari ke-4 karena itulah pemeriksaan ini dapat mendeteksi infeksi virus dengue bahkan sebelum terjadinya penurunan trombosit, setelah hari ke-4 kadar NS 1 gen mulai menuun dan akan hilang setelah hari ke-9 infeksi. Angka sensitifitas dan spesifitasnya juga tinggi. Bila ada hasil NS 1 postif menunjukkan kalau seseorang “hampir pasti” terkena infeksi virus dengue. Sedangkan kalau hasil NS 1 Ag dengue menunjukkan hasil negative tidak menghilangkan kemungkinan infeksi virus dengue dan masih perlu dilakukan observasi serta pemeriksaan lanjutan.ini terjadi karena untuk mendeteksi virus dengue diperlukan kadar yang cukup dari jumlah virus dengue yang beredar, sedangkan pada fase awal mungkin belum terbentuk cukup banyak virus dengue tetapi apabila pengambilan dilakukan setelah munculnya antibodi maka kadar virus dengue juga akan menurun. Disinilah diperlukan ketepatan dalam pemilhan waktu dan jenis pemeriksaan. Apabila panas masih awal pilihan pemeriksaannya adalah NS 1 Ag Dengue tetapi apabila sudah melewati hari ke-4 panas maka pilihannya adalah pemeriksaan IgG/IgM Dengue.. terkadang kedua pemeriksaan ini dilakukan bersamaan terutama saat waktu border line atau hari ke-3 hingga hari ke-5 panas. Jadi apabila ada gejala demam berdarah seperti panas tinggi, kedua pemeriksaan tadi dapat dilakukan disamping pemeriksaan standar seperti pemeriksaan darah lengkap untuk melihat kadar trombosit.

Pemeriksaan Serologi Torch
(TOKSOPLASMOSIS RUBELLA CYTOMEGALOVIRUS HERVES SIMPLEKS)

TOKSOPLASMOSIS Pada Ibu Hamil
Toksoplasmosis merupakan salah satu penyakit infeksi yang banyak mengenai manusia dan hewan (kucing, burung) yang disebabkan Toxoplasma gondii. Toxoplasmosis pada wanita hamil dapat menyebabkan cacat kongenital (bawaan lahir) pada bayi dan abortus. Infeksi toksoplasma umumnya tanpa atau dengan gejala gejala yang ringan seperti penyakit umumnya (demam, ringan, lesu, mual, pembesaran kelenjar geah bening). Hal inilah yang menyebabkan diagnosis toksoplasmosis umumnya terabaikan dalam praktek dokter sehari-hari. Bila penyakit ini mengenai wanita hamil dalam usia kehamilan trisemester (tiga bulan pertama) dapat menyebabkan abortus, lahir prematur, lahir mati, dan cacat kngenital/bawaan pada bayi seperti hidrosefalus (kepala membesar), anensecfalus (tanpa kepala), tuli dan kelainan pada mata. Di Amerika ribuan bayi lahir setiap tahun dengan toksoplasmosis kongenital karena ibunya terkena infeksi toxoplasma gondii semasa hamil. Prevalensi zat anti tToxoplasma gondii pada wanita hamil di RS Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta menyebabkan 67,8% abortus. Bilaa seorang ibu hamil terkena Toxoplasmosis maka reiko terjadinya Toksoplasmosis Kongenital pada bayi yang dikandungnya berkisar antara 30-40%

Diagnose Klinis
Diagnosa secara klinis sulit ditegakkan karena gejala klinisnya tidak spesifik. Hingga saat ini metode diagnostik yang lazim digunakan adalah pemeriksaan serologis karena pemeriksaan tersebut relatif paling mudah dilakukan dengan memeriksa zat anti IgM dan IgG Toxoplasma gondii. Dengan memeriksa titer antibodi kelas IgM dan IgG kita akan mengetahui apakah seseorang sedang infeksi akut, rentan atau imun/kebal terhadap toksoplasmosis. Hampir 100% kasus toksoplasmosis kongenital pada bayi dari ibu yang mengalami infeksi primer pada kehamilan. Dari berbagai hasil penelitian juga disimpulkan bahwa penyebab keguguran spontan terbesar adalah infeksi toxoplasma gondii (toksoplasmosis). Berdasarkan data-data yang ada bahwa angka ibu yang beresiko terkena infeksi toksoplasma ini sangat besar. Dampak klinis dari infeksi ini khususnya pada janin sangat merugikan baik materi maupun moril kaena infeksi ini terkadang tanpa gejala, pemeriksaan berkala/skrining pada ibu hamil perlu dilakukan agar tindakan antisipasi dapat dilakukan sedini mungkin. Didunia ini tidak ada orang ta menginginkan anaknya lahir dalam keadaan cacat baik secar fisik/jasmani atau rohani/jiwa melainkan yang diharapkan adalah anaknya dilahirkan sehat/normal jasmani dan rohani.

RUBELLA
Rubella adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus rubella. Penyakit ini biasanya diderita pada masa anak-anak dan sifatnya ringan serta akan sembuh sendiri. Bila infeksi terjadi pada saat wanita hamil dapat meimbulkan infeksi intra uterin dan dapat mengakibatkan abortus, kematian janin, lahir dengan berat badan rendah atau dengan berbagai cacat lainnya. Makin dini terjadi infeksi pada kehamilan, makin besar resiko terjadinya kelainan kongeital pada bayi yang dikandungnya.

Diagnosis
Banyak infeksi virus yang memberikan gejala klinis menyerupai Rubella sedang infeksi Rubella sendiri menimbulkan gejala klinis yang tidak khas. Sehingga mengeakkan diagnosis Rubella hanya berdasarkan gejala klinis saja sangat sulit dan memerlukan konfirmasi dengan pemeriksaan laboratorium.
Dua pemeriksaan yang berguna unutk konfirmasi yaitu isolasi virus dan pemeriksaan serologis. Isologis virs sangat sulit sedang pemeriksaan serologis lebih mudah dengan adanya diagnosis yang tinggi.
Infeksi Rubella akan menyebabkan tubuh membentuk berbagai jenis antibodi seperti IgM, IgA, IgG, IgD, dan IgE. Tetapi untuk diagnosis serologis yang dicari adalah antibodi kelas IgM unutk infeksi akut dan IgG unutk mengetahui daya imunitas seseorang. Antibodi kelas IgM mulai dibentuk pada saat timbul ruam dan mencapai puncaknya dalam 10 hari, kemudian menghilang setelah 50 hari. Antibodi kelas IgG dibentuk lebih lambat namun kadarnya akan meningkat dengan cepat dalam waktu 1-2 minggu dan menetap sampai beberapa tahun.
Untuk konfirmasi infeksi akut Rubella dengan pemeriksaan serologis, diperlukan 2 bahan pemeriksaan serum penderita yang diambil dengan selang waktu 10 hari atau lebih. Bila terdapat kenaikan titer 4 kali atau lebih maka dapat dipastikan telah terjadi infeksi akut Rubella. Untuk konfirmasi infeksi intra uterin diperlukan pemeriksaan secara serial dengan selang waktu 3 bulan selama 1 tahun terhadap bayi yang baru dilahirkan. Bila titer antibodi menetap atau bahkan meninggi maka dapat dipastikan telah terjadi infeksi intra uterin. Unutk menila keberhasilan imunisasi dilakukan dengan mengambil 2 spesimen serum dengan selang waktu 4 minggu. Jika terjadi kenaikan titer berarti imunisasi berhasil dan telah timbul kekebalan. Imunisasi biasanya diberikan pada usia remaja atau pada saat seorang wanita akan menikah. Bila wanita tersebut telah menikah maka imunisasi sebaiknya diberikan sebelum terjadi kehamilan. Tentu imunisasi ini dilakukan setelah terbukti wanita tersebut tidak memiliki kekebalan terhadap rubella
Kumalawati J dalam peneliatiannya terhadap wanita hamil di RSCM pada tahun 1988 membuktikan adanya kekebalan terhadp Rubella sebesar 58,3% pada kelompok usia 21-40 tahun. Diluar negeri prevalensinya jauh lebih tinggi

CYTOMEGALOVIRUS
Cytomegalovirus (CMV) adalah suatu virus DNA yang termasuk kelompok virus herpes dan tersebar hampir di seluruh dunia. Infeksi CMV pada manusia sangat umum terjadi dengan gejala klinik seperti penyakit infeksi umumnya. Reaktivitas infeksi primer dapat terjadi pada masa kehamilan dan mengakibatkan transmisi virus. Infeksi dapat pula melalui kontak sexual atau melalui tranfusi darah terutama komponen leukosit, karena diketahui CMV sering berdiam di leukosit. Pada anak dengan resiko tinggi (anak infeksi CMV kongenital) dan pada individu dengan gangguan immunitas, infeksi CMV dapat menjadi sangat berat bahkan mematikan. Infeksi CMV diduga dapat menyebabkan Hepatitis C pada penderita pasca transfusi. Penelitian Laksman pada tahun 1988 membuktikan pravalensi total terhadap CMV pada penderita Hepatitis C adalah 92,6% sedang pada kelompok kontrol 79,6%.

Diagnosis
Diagnosis berdasarkan gejala klinis sulit sekali, maka diagnosis infeksi CMV dapat ditegakkan dengan isolasi virus dan pemeriksaan serologis terhadap antibodi penderita. Isolasi virus sulit dikerjakan maka pemeriksaan serologis sangat bermanfaat dalam usaha mengakkan diagnosis infeksi CMV. Penentuan adanya antibodi kelas IgM terhadap CMV dan pemantauan kenaikan titer sebanyak 4 kali atau lebih dari antibodi ini sangat berperan dalam menentukan adanya infksi akut. Anti CMV IgM mulai terdeteksii pada hari ke-9 dan bertahan maksimal 4 bulan. Antibod IgG bertahan unutk waktu yang lebih lama.
Dikenal beberapa cara pemeriksaan unutk menentukan antibodi terhadap CMV dalam serum yaitu uji fiksasi komplemen, immunofluoresensi antibodi indirect. Elisa dan radio immuniassy (RIA) cara RIA sangat spesifik dan sensitif namun memerlukan peralatan khusus dan juga mengandung bahaya radioaktif. Kini teknik pemeriksaan cara Elisa banyak dilakukan karena spesifitas dan sensitifitas mendeteksi RIA. Selain itu cara Elisa tidak menunjukkan adanya reaksi silang dengan kelompok virus herpes lainnya.

HERVES SIMPLEKS
Virus Herpes Simpleks (HVS) termasuk kelompok virus herpes yang paling seeing menyebabkan infeksi pada manusia. Dua jenis virus herpes yang sering menyulitkan manusia ialah virus herpes simpleks tipe 1(HVS1) dan tipe 2 (HVS2). HVS-2 sering menimbulkan infeksi pada neonatus karena lokasi virus ini umumnya terdapat pada jalan lahir.
Isolasi virus sulit dilakukan maka cara deteksi yang mudah secara serologis unutk mengetahui jenis masing-masing virus dan status imunologis penderita.

Gambaran Penyakit
Gejala akiba infeksi virus herpes ini seperti gejala penyakit infeksi umumnya. Secara klinis HVS1 menimbulkan infeksi primer pada daerah non genital sedang infeksi HVS2 umumnya melalui hubungan sexual sehingga prevalensi tertinggi adalah pada masa pubertasdan dewasa muda karena aktifitas sexual tinggi.
Ada wanita infeksi HVS2 berupa vesikel pada mukosa labia dan vagina. Pada pria terdapat didaerah genital dan kadang sebagai uretritis dengan sekret encer. Masalhnya akan timbul bila wanita hamil terkena infeksi genital oleh virus ini. Hampir 40 sampai 60% bayi yang dilahirkan akan mengalami infeksi berat sampai cacat. Sectio caesarea merupakan suatu alternatif untuk menghindarkan penularan virus herpes ke bayi.

Diagnosis
Sebenarnya diagnosis infeksi virus herpes mudah dilakukan dengan menemukan vesikel pada predileksi tertentu. Isolasi virus dari lesi aktif jarang dilakukan karena sulit dan mahal. Dengan pemeriksaan serologis dapat dilakukan deteksii antibodi sehingga sangat menunjang diagnosis penyakit serta sifat imunitas seseorang. Antibodi IgM akan timul pada hari ke-7 samapai hari ke-10 setelah infeksi primer timbul dan mencapai titer maksimal dalam waktu 2-3 minggu, lalu kadarnya menurun sampai tidak terdeteksi lagi setelah 3 bulan. Ditemukannya antibodi IgM berarti infeksi sedang berlangsung akut. Pada wanita hamil antibodi IgM tinggi dalam serum bayi berarti telah terjadi infeksi kongenital

Kesimpulan
Kelompok penyakit Toxoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus dan Herper merupakan penyakit yang bersifat kosmolpolit, terbukti dengan prevalensi penyakit yng tinggi di berbagai negara. Gejala klinis yang menyerupai infeksi pada umumnya sering tidak terdiagnosis oleh dokter padahal akibat yang ditimbulkan oleh kelompok penyakit ini amat berbahaya dan merugikan. Deteksi antibodi IgM dan IgG amat menunjang diagnosis dan status immunitas seseorang. Teknik pelaksanaannya mudah dan manfaatnya besar.